Powered By Blogger

What do you find?

Kamis, 26 Februari 2015

People Changes

Dua hari pas IMLEK kemarin langit terlihat gelap seperti hatiku di Cimahi dan Bandung. Tapi setelah IMLEK berakhir, panasnya menyengat sekali ke hati, kalau gue pake celana gemes terus di sambelin mungkin udah jadi ayam bakar taliwang, Nuhun.

Jadi, cuaca aja bisa berubah, apalagi kamu?

Kan Kampret.
Coba kalian perhatiin aja orang-orang, lingkungan sampai hati kamu, semuanya  pasti mengalami perubahan. Setelah menetliti pake metode kuantitatif dengan rumus SinCos dan melalui penelitian ilmiah dengan menjadikan teman-teman gue sebagai objek penelitian bahkan gue sendiri yang jadi objeknya. Maka dengan bangga walaupun belum memakai toga, gue mengkategorikan perubahan-perubahan itu dalam 4 macam.


1. Dari Baik Menjadi Lebih Baik
Paijah anak yang pintar, soleh, rajin menabung dan suka menolong kakek menyebrang jalan. Dia terlahir dari keluarga bahagia dan ayahnya seorang pilot. Walaupun begitu, Paijah tidak pernah sombong temannya pun banyak. Meski Paijah tidak pernah ranking di sekolahnya, tapi dengan belajar sungguh-sungguh kini ia menjadi dokter.

Serius, temen gue ada yang kayak Paijah. Mungkin saja kekurangannya cuma satu; Jomblo.



2. Dari Buruk Menjadi Lebih Buruk
Jaman waktu belia, gue pernah di bego-begoin sama cowok, sebut saja dia Duri karena Mawar sudah terlalu mainstream. Sampai akhirnya gue putusin dia karena dia sudah menunjukan beberapa aksi yang berpotensi selingkuh.
Jadi, beberapa bulan yang lalu mantan gue yang itu datang lagi tiba-tiba ngehubungin gue,  Padahal gue tau kalo istri si Duri itu sebenarnya adik kelas gue, iya istri.... Sebenernya pas mereka masih pacaran gue pernah beberapa kali liat si Duri jadi 'ojeg cinta' si ceweknya. Dengan polosnya dan pura-pura gak tau gue bertanya demikian
LLK.
Mungkin aja dia gatau kalau sebenernya gue tau semuanya, soalnya udah gue bilang di post gue sebelumnya... Adaaaaaa aja orang yang laporan sama gue walaupun gue gak ingin tau. Gue tau sebenernya dia udah punya keluarga kecil yang (mungkin) bahagia. Dengan ke-pura-pura begoan gue, dia mengeluarkan semua kata-kata manis di kamusnya, gue cuma bisa ketawa. Akhirnya gue bilang kalau gue tau semuanya. Tapi tetep aja gak ngaku. Gue kasian sama istrinya. Dan anaknya.

Mungkin dia lelah...............



3. Dari Buruk Menjadi Baik
Jaman SD gue pernah dipanggil kepala sekolah akibat membuli teman. Jaman SMP juga gak kalah langganan Red Book BP/BK. Tapi pas sekolah ke jenjang lebih tinggi, gue sadar semua itu cuma sekedar untuk seneng seneng menikmati masa kelabilan dan mencari jati diri. 
Tapi gue bersyukur pernah nakal. Gue jadi bisa lebih mencermati mana teman dan mana "teman". Disaat gue harus menerima takdir yang tidak bisa dipungkiri... Bukan, bukan jomblo tapi jumlah umur yang terus bertambah gue bisa belajar semakin dewasa dan mempelajari hidup... Tapi mempelajari cinta selalu bodoh. Over all gue udah puas dengan kenakalan itu semua. Mabal pelajaran, marahin adik kelas, labrak-labrakan sama kakak kelas, gak pernah ngerjain tugas, main terus yaaa gitu-gitu ajasih. Gue bersyukur gue pernah nakal waktu masih bocah karena disaat gue tumbuh dewasa tingkat kenakalan pun meningkat menjadi pergaulan bebas. Alhamdulillah gue gak masuk ke inti lingkaran itu.
Apalagi kalau sekarang gue ngobrol sama partner in crime gue waktu dulu, gue salut, ya...... Walaupun belum semua tapi ternyata temen-temen gue udah pada berubah, mulai dari postur badan yang dari Unyil berubah jadi Hulk. Yang biasanya mikirnya kaya Patrick sekarang jadi Jimmy Newtron. Yang dulu pacarnya banyak sekarang jomblo sekarat HAHAHAHA.

A half of my partner in crime
 Nindia, Putri, Elva (Gue) , Yudistira, M.Rian, Iqbal
Kalau dulu sama mereka cuma bisa main kesana-kesini doang, bikin kesel orangtua, bikin pusing guru, bikin orang di sekitar jadi sebel tapi setelah hampir 5 tahun gak ngobrol banyak, gak pernah ngobrol serius, tapi sekarang kalau ngobrol sama mereka bisa bikin gue terharu aja, udah pada bikin resolusi hidup untuk masa depan kadang juga ngomongin kita waktu labil dan kita tertawa bersama.

Mereka sudah dewasa... Tuhan :')


4. Dari Baik Menjadi Buruk
Jaman memang berubah, perasaanku padamu juga berubah... 
Gue mengalami masa metamorfosis pas jaman SMP, beda halnya sama temen-temen gue di kalangan SMK. Entah karena gaya hidup di SMK itu berbeda dengan SMA. Tapi ini serius, hidup gue sih udah kaya di pelem-pelem metrapolitan. Konon, temen gue dari kelas sebrang sana ada yang jadi simpenan om-om, ada yang jadi selingkuhan suami orang, banyak juga yang jadi anak dugem... ah udh macem-macem aja deh kasusnya, bahkan ada yang sampe skandal di kelas. *tepuk tangan*
Entah gue yang kaget atas perubahan lingkungan gue, atau mungkin orang-orang di sekitar kalian pun ada yang kaya gitu? Apa sekarang semua hal yang dulu di anggap tabu sekarang udah biasa aja? Nah, biasanya orang-orang yang berkasus di sekitar gue itu biasanya yang berlatar belakang golongan orang-orang yang (sorry, bukan rasis) cupu. Ya mungkin para cupu-cupu ini ingin merasakan perubahan hidup dan merasakan "kehidupan". Helaaawww.... Kehidupan tidak seindah itu, bro, tapi banyak hal lain yang lebih indah. Banyak juga yang berlatar belakang (Sorry) Broken home. Helaaawww..... Apa dengan "hal itu" keluarga kalian bisa utuh lagi? Namanya juga hidup nak, Nya da hirup mah peurih atuh. Terima kenyataannya dan yaudah itu keluarga elu, sedangkan lu sendiri masih punya hak untuk masa depan, Don't waste your time for nothing.
Ya ini dia yang gue bahas di point tiga. Gue bersyukur karena waktu SMP tingkat kenakalan gue masih level 3 dan udah cukup puas untuk nakal. But for now, guys, please open your eyes. Emang itu bukan urusan gue, tapi di umur yang makin tua ini hidup kalian bakal dipake hal-hal yang gituan terus? Susah untuk berubah? Kalau bukan dari diri kalian sendiri, siapa lagi?

Save your time cause your time is priceless.

Selasa, 17 Februari 2015

Masuk HI?

Teng tong teng tong... Mohon perhatian bagi para pelajar. Sesungguhnya semester genap baru saja dimulai. Bagi yang duduk di kelas tiga, harap dipersiapkan untuk memasuki bimbel, try out, les, latihan soal untuk menghadapi UN (Ujian Nasional) HUAHAHAHAHAHA.



Kalau throwback di masa kelam sekolah dulu..... Atau tepatnya tiga tahun yang lalu juga gue pernah merasakan hal yang sama. (Oh, kenapa udah 3 tahun aja berlalu.... dan gue masih begini....). Mungkin ada beberapa teman yang sudah pakem atau paten atas cita-citanya. Contohnya yang ingin jadi dokter belajar mati-matian untuk masuk jurusan IPA dan untuk tes masuk universitas ternama yang udah di kotret sedari dini. Atau ada juga yang ingin jadi tentara melakukan hal yang sama untuk mencapai cita-citanya. Dan masih banyak lagi. Sedangkan gue waktu itu masih mikir pengen jadi apa.

Karena dari kecil berkecimpung di darah seni, pengen jadi seniman tapi di kekang oleh orangtua dengan alasan berbagai macam. Mungkin kalau dulu gue bilang ingin jadi designer orangtua gue masih bisa mempertimbangkan. Terus waktu SMP ikut theater, ingin jadi artis Menjelang kelulusan SMP gue ikut paduan suara (Sebagai suara Alto versi lipsync) gue ingin jadi artis tapi gak tega sama telinga para pendengar jadi gue mengurungkan niatnya. Terus gue masuk Sekolah Kejuruan dengan jurusan Akuntansi. Berubahlah lagi cita-citaku ingin jadi seorang akuntan di bank atau perusahaan besar. Tapi setelah belajar kewirausahaan semuanya berubah ketika negara api menyerang, cita-cita gue ingin jadi pengusaha. Tapi lagi-lagi gue gak dikasih izin untuk kuliah jauh-jauh karena gue anak bungsu dan wanita manis :') Padahal cita-cita gue dari sebelum TK pengen bikin doraemon.

Akhirnya gue lulus jurusan Akuntansi itu tahun 2012. Gue bingung mau daftar kuliah kemana sedangkan di sekolah gue karena sekolah kejuruan banyak banget perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan. Gue makin galau.




Disaat temen-temen gue pada mantap ngelamar kerja dan daftar SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negri) Btw, gue baru tau kepanjangan singkatannya, gue gak ikutan keduanya soalnya gue lebih milih untuk ikutan tes CPNS di KEMENHUMKAN (Kementrian Hukum dan HAM). 

Hasilnya? 

HHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHHAHAHAHHAHAHAHHAHAHHA. 
Gagal. 
Galau lagi.


Akhirnya gue memutuskan untuk kerja dan kuliah di tahun kedepannya sambil mikirin kamu mau masuk jurusan apa nanti kuliah, gue memutuskan untuk lanjutin jurusan semasa sekolah, yap. Akuntansi.

Selama setahun bekerja gue minta temen-temen gue untuk nyeritain apa sih yang ada di kuliahan dan gimana prosesnya, ternyata...... Dunia perkuliahan sebenarnya itu gak seindah dunia perkuliahan yang ada di pelem-pelem apalagi FTV Indonesia. Ah mungkin ini alasan gue waktu kecil ingin punya ibu peri. Dari situ gue mengurungkan niat untuk masuk reguler class, kayaknya kebanyakan banget waktu kosongnya, selagi hatiku kosong masa hariku harus kosong juga? :')

Setahun berlalu setelah menimbang berat badan gue galau.... BUKAAAAN!!! Maksud gue menimbang-nimbang jurusan mana yang bakal gue pilih. Akhirnya karena pilihannya hanya di jurusan Manajemen, Akuntansi, Ilmu Pemerintahan dan Hiubungan Internasional : Manajemen gue gak suka, Akuntansi akreditasinya belum bagus, Ilmu Pemerintahan masih dendam sama Kemenhumkam dan yaudah gue masuk HI aja. Jadi, kalau dosen gue nanya: Kenapa masuk HI? Temen-temen gue jawab : Ingin jadi Diplomat, Bu... Gue jawab: Ingin keliling dunia, Bu. Sungguh, jawaban yang mulia.

Entah karena polos atau terlalu bodoh gue pikir masuk HI itu belajar tentang negara mulai dari bahasa, kehidupan disana, kebudayaan, ekonominya dan sejarahnya sampai tempat pariwisatanya dan gue bisa jalan-jalan kesana..... Walaupun emang bener belajar itu semua tapi kenyataannya ekspetasi gue hancur berkeping-keping sama kayak waktu mau nikah sama kamu tapi gajadi... ternyata Semua mata kuliah yang harus gue pelajari 98% porsinya adalah politik.
OH, NUHUN.

Iya..................
Gini......................

POLITIC POLITIC POLITIC. I don't know its actually good or bad but all the things about politics can make me thinking like a fool. Lebih bodoh mikirin politik daripada mikirin kamu, Sumpah.

Jadi buat yang suka politik sih kayaknya asik-asik aja tapi bagi orang kaya gue yang sedari dulu baca berita aja gak pernah.... Serasa menjadi yang paling bego di kelas. Oranglain udah ngomongin X gue masih di huruf setengah A. Gue sedih.

Tapi ada temen gue yang kalau ada masalah apapun ngebela Indonesia. Terus gue masih inget debat tentang Indonesia yang gue kekeuh kalo Indonesia itu negara yang payah. Tapi temen-temen gue yang lain juga ngebelain dia. Berati kayaknya gue yang emang aneh. Kemudian gue bertobat dan memilih jalan yang lurus.

Gue suka bercandaan sama mamah "Mah, itu yang pada korupsi berati mending korupsi yang banyak aja yak sekalian, daripada sedikit dosanya sama aja kayakya hahahaha" Emak gue hanya bisa tersenyum. Ya gitudeh dulu gue gak suka banget denger berita soalnya kasus korupsi bertebaran yang bikin gue jadi gemes sendiri makanya gue lebih milih untuk tidak tau. Dan ternyata gue sadar itu salah, harusnya gue peduli apa yang telah terjadi, sedang terjadi dan kemungkinan yang akan terjadi bagi negara kita. Kalau negara hancur, apakabar anak gue nanti, btw emang mau nikah sama siapa? :(

Sejak kuliah gue sering melakukan renungan malam sebelum tidur dan menuliskannya di hape dengan berbagai macam password soalnya kalo dibaca oranglain gue bisa-bisa nyilet-nyilet tangan gajah apalagi kalau kemudian hari dibaca lagi emang agak geli dan menjijikan dan cuma bisa ketawa dan ngaca "Kenapa gue dulu tuh enggak banget ya"... Ya.. jadi gue pernah nulis gini:

Dilihat dari tanggal pembuatannya sangat terlihat betapa polosnya aku........... 
Macam HVS yang belum di daur ulang

Sebenernya isi diary berupa notes gue itu masih panjang, but its too shameful to post. 

Sejak avatar pengendali udara menghilang, gue mulai berusaha untuk suka sama apa yang ada di sekitar gue. Makanya sering-sering ya kamu ada di sekitar aku #kode. Gue mulai dari membongkar gudang nyari buku IPS dari jaman SD. Gue baca lagi oh kenapa gue lupa semuanya tentang kamu karena juga di sekolah kejuruan gue gak belajar IPS jadinya gue menggali lagi ingatan yang telah pudar, untung ini semua bukan tentang kamu, tapi tentang sejarah Indonesia dan Perang dunia. Damn gue harus mulai dari enol. Mungkin minus. 

Dari situ biasanya pagi-pagi sambil sarapan gue nonton spongbob gue dipaksa nonton berita, Biasanya baca komik berubah jadi baca berita, biasanya baca novel dipaksa berubah untuk baca buku politik, biasanya nonton drama sekarang dipaksa untuk nonton sejarah dan politik, biasanya bareng kamu sekarang aku bareng politik. Pacaran sama politik dan mengamati hati dosen. Walaupun semuanya atas paksaan tapi gue sekarang menerima banyak feedback positifnya dan ke asikannya #DamnItsTrue.

Gue belajar apa yang gue enggak suka, apa yang harusnya gue tau dan cari tau, gue belajar apa yang seharusnya dilakukan dan masih banyak banget. Politik itu kayak crayon, warna-warni isinya. Politik itu kayak kuas, kalo kita oles bisa keliatan hasilnya bisa juga enggak. Politik itu kayak bungkusan cat yang kalo dibuka isinya baru keliatan warnanya. Politik itu kayak lukisan absurd pelukis terkenal, ada makna terselubung didalamnya. Jadi gue anggap aja politik itu seni. Soalnya gue suka seni................ Dan makan dan kamu.


Meski sekarang gue cuma masih bisa belajar dan belum bisa nunjukin rasa kasih sayang gue sama jurusan ini dan Indonesia dan kamu, suatu saat...... Pasti.

Ternyata gara-gara masuk jurusan ini, kayaknya cita-cita gue mengalami revolusi, lagi. Sekian.


P.S : Jadi buat anak kelas tiga yang masih bingung mau kemana udah lulus segeralah bertobat dari sekarang mumpung semester genap belum lama berlalu dan dia belum diambil orang lain. God bless you all, SIS-WA! *senyum pake bondu tanduk setan*




Kamis, 05 Februari 2015

Elva's Sadness Side

Pernah ada orang nanya "Va, kok lu gak pernah sedih?"

Kenapa pertanyaan itu bodoh sekali. Emangnya gue bukan orang? Atau apa mungkin mereka gak tau bahwa sebenernya gue adalah alien dari komplotan trooper star wars yang dikutuk menjadi manusia dan dibuang ke bumi demi visi misi perdamaian mahluk bumi: membela hak kesenangan seseorang? Nih buktinya

Me with friends ketika mereka berkunjung
dan mengecek data-data pekerjaan gue di bumi....
 yang sudah tercemar.
#saveourearth





Kenapa makin ngaco.


Jadi beberapa minggu belakangan ini gue sedih. Kisah kehidupan gue sedih. Dimulai dari konflik internal dalam keluarga, pertemanan, hingga percintaan. Gak tau kenapa semua terjadi sekaligus, mungkin si masalah khilaf. Gue makin sedih ketika orang yang biasanya gue jadiin sandaran juga dia pergi dan menghilang. Gue berfikir dari jungkir balik sampe sikap lilin, apa mungkin dia hantu? 


Orang yang bersedih dipersilahkan untuk galau. Walaupun kata galau bisa memancing bulian orang lain. Gak masalah kok, mereka gak ngerasain apa yang kita rasain. Tapi mungkin cara bersedih setiap orang berbeda-beda. Kalau gue lebih baik untuk menghilang sejenak dan lebih milih untuk gak tau tentang apa yang terjadi dari sumber masalah itu selagi gue berfikir kesalahan apa yang telah gue lakuin sampe mereka bikin gue sedih. Tapi walaupun gue selalu menghindari untuk tau apa yang sedang dilakukan mereka, terutama dari media sosial, tapi kuping dan hidung gue tersebar dimana-mana. Gue menebarkan spy di seluruh lautan ini hingga mereka memberi laporan. Padahal sumpah, gue mending gatau aja sekalian. Btw thanks ya kalian, informant(s) :') Very helping for making my dissapointed level higher. Sekarang level kecewa gue kepada seseorang sudah menduduki level 5 chicken wings di recheese factory.


Empat tahun lalu, tepatnya terjadi sekitar tahun 2011-2012 kesedihan gue mencapai puncak kejayaannya. Sampai gue melakukan hal-hal yang tidak manusiawi saking galau dan labilnya pada masa itu. Kalau sekarang dipikirin kenapa gue bisa kaya gitu, gue hanya bisa tersenyum dan ngakak tapi emang itu pernah gue lakuin. Contohnya, curhat sama tembok. Kaya gini:

Andai dulu pas curhat gue taken a selfie dulu with tembok.......



Jadi sebenernya gue berpengalaman banget masalah kesedihan. Sebenernya dulu pengen nangis-nangisan di taman kota gitu pas lagi hujan biar makin dapet feelnya terus ada cowo datang menghampiri mayungin, tapi gue sadar saat itu lagi gak musim hujan lagipula Cimahi City cuma punya Taman Kartini terus walaupun iya ada cowo yang nyamperin, paling itu cabe-cabean, yang lagi mojok, Oops sorry #NoOffense. 
Ya tapi paling gue galau sendiri, nangis sendiri, mandi sendiri. ketika semuanya digabung galau nangis sambil mandi.... di bawah keran. (P.S: Shower kamar mandi gue kebetulan udah gak berfungsi kala itu) Gue makin sedih... Soalnya menurut kamus kesedihan harusnya sih dibawah shower biar ngena feel lagi sedihnya.


Karena sudah berpengalaman, gue sekarang bisa bersikap lebih dewasa dibanding kalo sedih jaman dulu. Apalagi sekarang shower dirumah gue udah bener, jadi gue bisa melakukan praktek kesedihan lebih menjiwai. Karena sudah berpengalaman gue juga tau semua masalah pasti beres dan pasti ada ujungnya, kalo terlarut dalam kesedihan, wajar, bukan?

Asal inget. Semua ada waktunya. Waktunya kita memahami apa yang sebenernya lg terjadi, apa saja sumber masalahnya, waktunya untuk merasa bersalah, untuk meminta maaf, untuk menangis, bersedih, semua ada waktunya untuk menganalisis semuanya. Atau bisa aja langsung jadi detektif sekalian. Kalo berlarut dalam kesedihan dalam waktu yang terlalu lama mungkin kamu lelah dan butuh hiburan.


Sekarang gue bakal belajar untuk tidak bersikap "Too Much" kepada hal apapun. Walaupun dari dulu selalu ini yang jadi masalahnya. Walaupun praktek untuk tidak Too Much itu sangat sulit jadi gue selalu gagal, walaupun gitu gue bakal berusaha terus. Because if you feeling too much, You will fall in the same way.  Walaupun kata-kata itu sudah tertanam sangat dalam di otak tapi realistisnya memang gak semudah teori. Hati emang kadang gak singkron sama apa yang otak perintahkan :') Gue bakal belajar untuk hidup individualis: untuk tidak terlalu peduli dengan orang yg gue sayang dan untuk tidak ketergantungan sama kehadiran seseorang, walaupun gagal terus bakal gue coba terus.


Mengalah bukan berarti kalah, meminta maaf bukan berarti kehilangan harga diri.
Dari Elva yang sedang bersedih, sekian.

Senin, 02 Februari 2015

Triple C : Cimahi City Cintaku

Jadi gue mau nyeritain dari jaman gue lahir.
Gue lahir dan besar di Cimahi, yang gak tau Cimahi itu dimana, gue bakal mendeskripsikan secara rinci.Dapet nyontek dari webnya langsung Cimahi itu kota mungil yang terletak di antara  107°30’30’’ BT – 107°34’30’’ dan 6°50’00’’ – 6°56’00’’ Lintang Selatan



Si CIMA, Logo kota Cimahi. Sumber : Googling juga banyak.
Bagi yang pernah nemu gambar alien ini, jangan takut.
Dia datang dari Cimahi dengan damai.


Masih belum tau juga? Kalo Bandung pasti tau kan?
Jadi Cimahi itu di kelilingi oleh Kota Bandung. Jadi setelah mempelajari Geografi Politik di kuliahan gue jadi dapat mempelajari bahwa Cimahi Selatan itu berbatasan langsung dengan Bandung Utara, Cimahi Tengah berbatasan langsung dengan Cimahi Selatan dan Cimahi Utara, sedangkan Cimahi Utara berbatasan langsung dengan Kab. Bandung Barat. Jadi Cimahi Barat dan Cimahi Timur gue gak tau berbatasan langsung dengan apa soalnya emang gak ada.

Lebih spesifiknya lagi gue lahir, tinggal, besar dan mengalami patah hati di Cimahi. Tepatnya gue tinggal di ibu kotanya Cimahi yaitu di Cihanjuang. Oh, I love Cihanjuang~ Walaupun Cimahi kota kecil dan mungil kayak badan gue, tp tinggal disini itu banyak gengster aman, tentram dan damai~

Karena sedari kecil udah hidup disini, jd kayaknya Cimahi itu masuk dalam part of my life. Karena dari TK aja di Cimahi, Pernah waktu ambil sekolah gue di SMK 11 Bandung yang letaknya masih di perbatasan aja padahal bikin gue sering bolos karena lagi ribut sama pacar letaknya terasa jauh, sejauh aku dan dia sekarang :') Thats why salah satu alesan gue untuk kuliah di Cimahi.... lagi #Gagalmoveondaricimahi

Jadi gue adalah orang diantara orang-orang yang merasakan perubahan Cimahi. Sebentar, emang gue orang?

Apalagi setelah di bangunnya Pusat Pemerintahan Kota Cimahi atau biasa disebut Pemkot, semua terasa lebih mudah namun sumpek, dari lowong hingga padat, dari sejuk hingga panas terik, dari mencintaimu hingga membencimu #KadinyaDeui . Sebagai orang yang tinggal di daerah administratif, Cihanjuang sekarang jadi daerah paling sibuk seCimahi. Jarak dari rumah ke Pemkot yg cuma satu menit kalau macet lagi kambuh bisa kaya Jakarta, Yap! bisa jadi 3 jam #seriusinicurhat

Udah gitu sekarang kalo hari minggu yang harusnya jadi Car Free Day tapi jadi Dagang Yang Bikin Macet Day. Gue sedih. Semakin banyak emang-emang bangunan yang menggerus lahan hijau hijau dan mendirikan perumahan. Gue makin sedih. Apalagi semakin banyak orang yang pacaran di pemkot pada malam hari. Bikin gue ingin bom jembatan pemkot. Padahal jembatannya sekarang udah unyu seperti ini:


Gue udah pernah poto sendiri tapi gatau filenya dimana jadi googling ajah

Tapi, bagaimana jadinya jika jembatan se-unyu ini gue bom. Bukan masalah takut ditindak hukum, atau masalah gue gak tega ngebom jembatan ter-unyu ini, tapi megang petasan aja gue takut. Jadi kuurungkan niatku untuk membomnya.


Walaupun setiap ke Bandung dibilang keluar kota, Walaupun kini Cimahi tak seindah dulu seperti kisah cinta kita dahulu jua namun Cintaku pada Cimahi takan luntur seperti cintaku padamu. Nuhun.