Powered By Blogger

What do you find?

Kamis, 05 Februari 2015

Elva's Sadness Side

Pernah ada orang nanya "Va, kok lu gak pernah sedih?"

Kenapa pertanyaan itu bodoh sekali. Emangnya gue bukan orang? Atau apa mungkin mereka gak tau bahwa sebenernya gue adalah alien dari komplotan trooper star wars yang dikutuk menjadi manusia dan dibuang ke bumi demi visi misi perdamaian mahluk bumi: membela hak kesenangan seseorang? Nih buktinya

Me with friends ketika mereka berkunjung
dan mengecek data-data pekerjaan gue di bumi....
 yang sudah tercemar.
#saveourearth





Kenapa makin ngaco.


Jadi beberapa minggu belakangan ini gue sedih. Kisah kehidupan gue sedih. Dimulai dari konflik internal dalam keluarga, pertemanan, hingga percintaan. Gak tau kenapa semua terjadi sekaligus, mungkin si masalah khilaf. Gue makin sedih ketika orang yang biasanya gue jadiin sandaran juga dia pergi dan menghilang. Gue berfikir dari jungkir balik sampe sikap lilin, apa mungkin dia hantu? 


Orang yang bersedih dipersilahkan untuk galau. Walaupun kata galau bisa memancing bulian orang lain. Gak masalah kok, mereka gak ngerasain apa yang kita rasain. Tapi mungkin cara bersedih setiap orang berbeda-beda. Kalau gue lebih baik untuk menghilang sejenak dan lebih milih untuk gak tau tentang apa yang terjadi dari sumber masalah itu selagi gue berfikir kesalahan apa yang telah gue lakuin sampe mereka bikin gue sedih. Tapi walaupun gue selalu menghindari untuk tau apa yang sedang dilakukan mereka, terutama dari media sosial, tapi kuping dan hidung gue tersebar dimana-mana. Gue menebarkan spy di seluruh lautan ini hingga mereka memberi laporan. Padahal sumpah, gue mending gatau aja sekalian. Btw thanks ya kalian, informant(s) :') Very helping for making my dissapointed level higher. Sekarang level kecewa gue kepada seseorang sudah menduduki level 5 chicken wings di recheese factory.


Empat tahun lalu, tepatnya terjadi sekitar tahun 2011-2012 kesedihan gue mencapai puncak kejayaannya. Sampai gue melakukan hal-hal yang tidak manusiawi saking galau dan labilnya pada masa itu. Kalau sekarang dipikirin kenapa gue bisa kaya gitu, gue hanya bisa tersenyum dan ngakak tapi emang itu pernah gue lakuin. Contohnya, curhat sama tembok. Kaya gini:

Andai dulu pas curhat gue taken a selfie dulu with tembok.......



Jadi sebenernya gue berpengalaman banget masalah kesedihan. Sebenernya dulu pengen nangis-nangisan di taman kota gitu pas lagi hujan biar makin dapet feelnya terus ada cowo datang menghampiri mayungin, tapi gue sadar saat itu lagi gak musim hujan lagipula Cimahi City cuma punya Taman Kartini terus walaupun iya ada cowo yang nyamperin, paling itu cabe-cabean, yang lagi mojok, Oops sorry #NoOffense. 
Ya tapi paling gue galau sendiri, nangis sendiri, mandi sendiri. ketika semuanya digabung galau nangis sambil mandi.... di bawah keran. (P.S: Shower kamar mandi gue kebetulan udah gak berfungsi kala itu) Gue makin sedih... Soalnya menurut kamus kesedihan harusnya sih dibawah shower biar ngena feel lagi sedihnya.


Karena sudah berpengalaman, gue sekarang bisa bersikap lebih dewasa dibanding kalo sedih jaman dulu. Apalagi sekarang shower dirumah gue udah bener, jadi gue bisa melakukan praktek kesedihan lebih menjiwai. Karena sudah berpengalaman gue juga tau semua masalah pasti beres dan pasti ada ujungnya, kalo terlarut dalam kesedihan, wajar, bukan?

Asal inget. Semua ada waktunya. Waktunya kita memahami apa yang sebenernya lg terjadi, apa saja sumber masalahnya, waktunya untuk merasa bersalah, untuk meminta maaf, untuk menangis, bersedih, semua ada waktunya untuk menganalisis semuanya. Atau bisa aja langsung jadi detektif sekalian. Kalo berlarut dalam kesedihan dalam waktu yang terlalu lama mungkin kamu lelah dan butuh hiburan.


Sekarang gue bakal belajar untuk tidak bersikap "Too Much" kepada hal apapun. Walaupun dari dulu selalu ini yang jadi masalahnya. Walaupun praktek untuk tidak Too Much itu sangat sulit jadi gue selalu gagal, walaupun gitu gue bakal berusaha terus. Because if you feeling too much, You will fall in the same way.  Walaupun kata-kata itu sudah tertanam sangat dalam di otak tapi realistisnya memang gak semudah teori. Hati emang kadang gak singkron sama apa yang otak perintahkan :') Gue bakal belajar untuk hidup individualis: untuk tidak terlalu peduli dengan orang yg gue sayang dan untuk tidak ketergantungan sama kehadiran seseorang, walaupun gagal terus bakal gue coba terus.


Mengalah bukan berarti kalah, meminta maaf bukan berarti kehilangan harga diri.
Dari Elva yang sedang bersedih, sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar